Seks Pranikah Remaja Indonesia 45 Persen
SRAGEN Sekitar 40 hingga 45 persen remaja di Indonesia melakukan seks pranikah. Perilaku ini menjadi salah satu faktor kurangnya kualitas keluarga di Indonesia.
Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) BKKBN, Lalu Sudarmadi, mengungkapkan hal itu dalam acara peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) XIV, Hari Antinarkoba Internasional (Hani), dan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tingkat Jawa Tengah di Sragen, Kamis (5/7)."Angka ini cukup tinggi. Akibatnya, banyak kualitas keluarga yang rendah karena mereka berkeluarga dan melakukan perkawinan yang tidak direncanakan," ujar Lalu Sudarmadi. Padahal, keluarga menjadi andalan bagi negara dalam menciptakan kader-kader bangsa yang berkualitas. Dengan banyaknya tantangan tersebut, menurut Lalu, diperlukan penanganan secara menyeluruh dari semua pihak.Apalagi saat ini sebanyak 50 hingga 60 persen anak-anak yang dilahirkan di Indonesia berasal dari keluarga miskin. Untuk mengatasi peningkatan penduduk miskin itu, maka perlu penerapan program KB.Gubernur Jateng Mardiyanto pada kesempatan yang sama mengatakan, pertumbuhan penduduk harus dikendalikan. Jika tidak terkendali, maka beban yang dihadapi juga semakin berat. "Berdasarkan catatan dari Biro Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk di Jawa Tengah sampai dengan tahun 2007 sebanyak 32.296.828 jiwa, dan sampai tahun 2010 diprediksikan akan menjadi sekitar 32.911.140 jiwa atau meningkat sebanyak 614.312 jiwa," katanya.Jika peningkatan penduduk tersebut tidak disertai dengan peningkatan kapasitas, kualitas, serta pemerataan penyebarannya, maka akan menjadi beban pembangunan. Bahkan dikhawatirkan akan menghambat akselerasi dalam mewujudkan masyarakat yang sejahtera lahir dan batin.Sementara untuk angka kelahiran di Jawa Tengah pada tahun 2005, terjadi peningkatan 0,1 persen dari tahun 2004 yang sebesar 2,18. Meksipun angka peningkatannya kecil, Mardiyanto menegaskan tetap diperlukan pengendalian kelahiran. Pesatnya laju pertumbuhan penduduk ini juga memunculkan masalah sosial lain, yaitu adanya ketimpangan serta rendahnya status sosial ekonomi masyarakat. "Akibat yang ditimbulkan adalah tidak kondusifnya masyarakat dalam kesejahteraan hidupnya. Untuk itu, perlu ditingkatkan program lainnya, seperti memperkecil angka kematian, meningkatkan kesehatan reproduksi, termasuk pemberdayaan perempuan dan pemberdayaan keluarga. Ketahanan keluarga sebagai benteng pertama dan utama dalam menanggulangi peredaran gelap dan penyalahgunaan narkoba hendaknya juga terus ditingkatkan," katanya lagi.