Kamis, 27 September 2012

Dorong Pembangunan Indonesia, AusAID Gelontorkan Hibah Rp 980 M

 
Jakarta Selama ini dana Penelitian di Indonesia untuk pembuatan kebijakan pemerintah dinilai masih sangat kurang dan banyak yang tidak tepat sasaran. Hal ini menjadi perhatian sebuah badan kerjasama pembangunan internasional milik Australia, AusAID.

Lembaga yang telah banyak memberikan donor dalam bentuk hibah kepada Indonesia ini kembali akan menggelontorkan dana hibah kepada Universitas Gadjah Mada (UGM) dan sejumlah LSM di Indonesia sebesar Rp 980 miliar. Dana hibah tersebut diberikan untuk tempoh lima tahun.

"Dana ini bukan program tunjangan, tetapi dana hibah murni. Dana ini berlaku untuk lima tahun pertama dari target 15 tahun," kata perwakilan AusAID di Indonesia, Mat Kimberly, di Anomali Coffe, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis (27/9/2012).

Pemberian dana hibah tersebut, menurut Kimberly, karena AusAID menilai betapa pentingnya pengetahuan bagi pembangunan dan pertumbuhan perekonomian Indonesia. Masih banyak warga Indonesia yang penghasilannya kurang dari Rp 20 ribu sehari. Kebijakan pemerintah masih banyak yang dibuat berdasarkan perkiraan, bukan hasil penelitian.

"Bagi kita ini bagus, akan mempromosikan bagaimana kita sebagai bangsa mengelola pengetahuan. Kebanyakan hasil penelitian di kita (Indonesia) tidak terdokumentasi dengan baik," ujar Rimawan Pradiptyo, dosen dan peneliti Ekonomika Kriminalitas UGM, yang turut hadir dalam diskusi bersama AusAID pagi ini.

Menurut Rimawan, hasil penelitian yang didanai AusAID tidak hanya bertujuan untuk mengarahkan kebijakan pemerintah, namun bisa juga digunakan oleh pihak swasta. Selain itu pendanaan ini akan membuka akses untuk peneliti-peneliti di daerah yang memiliki ide penelitian namun tidak terfasilitasi.

Tindak lanjut dari diskusi hari ini, akan diadakan seminar internasional terkait pendanaan pnelitian ini 2 Oktober mendatang, di Hotel Arya Duta. Seminar tersebut akan dihadiri oleh BAPPENAS, AusAID, UGM, dan beberapa LSM.