Kalimat itu meluap dari mulut Amelia Ahmad Yani, putri ketiga Jenderal (Purn.) Ahmad Yani, Pahlawan Revolusi. Ingatannya masih segar merekam peristiwa pembunuhan ayahnya oleh pasukan Tjakrabirawa yang dikuasai PKI di rumahnya.
1 Oktober 1965, tembakan membahana seperti halilintar, derap sepatu lars tentara, dan deru mobil mengepung rumah dinas Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Ahmad Yani di Jalan Untung Suropati, Jakarta.
Amelia hanya mengintip melalui kamar belakang. Di ruang makan, ia melihat ayahnya terbungkus piama biru tengah diseret tentara. Darah tercecer di lantai, ayahnya sudah memejamkan mata.