Tim menggali 13 titik yang tersebar di Desa Macan Putih sejak Sabtu, 23 November hingga Rabu sore kemarin, 28 November 2012 (baca juga: Tim UGM Teliti Situs Macan Putih di Banyuwangi).
Guru besar arkeologi UGM, Inajati Adrisijanti, mengatakan, dari penggalian tersebut, tim menemukan berbagai struktur bangunan yang terbuat dari batu bata berukuran besar. Selain itu, ditemukan berbagai macam fragmen gerabah. "Ada juga fragmen-fragmen keramik," kata Inajati kepada Tempo, Kamis, 29 November 2012.
Seluruh fragmen dan hasil eskavasi, menurut Inajati, akan dianalisis di UGM untuk menentukan umur dan asal benda-benda bersejarah tersebut.
Koordinator tim peneliti Situs Macan Putih, Sri Margana, menjelaskan bahwa hasil signifikan lainnya yang ditemukan dari eskavasi yakni tim bisa mengidentifikasi lokasi kremasi dengan luas 10 x 6 meter dan kedalaman 3 meter. "Di lokasi tersebut ditemukan penuh abu dan tulang-tulang manusia," ujarnya.
Menurut Sri Margana, bila Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mengalokasikan dana, situs itu bisa menjadi kawasan cagar budaya yang potensinya sama besar dengan Situs Trowulan di Mojokerto. "Semua tergantung niat, dana, dan komitmen pemerintah," ucapnya.
Desa Macan Putih merupakan wilayah ibu kota Kerajaan Blambangan saat dipimpin Prabu Tawang Alun pada kurun waktu 1655-1691 Masehi.
Kerajaan Blambangan berdiri pada abad XIII dan runtuh pada abad XVIII. Kerajaan ini merupakan kerajaan Hindu terakhir di Pulau Jawa dan daerah terakhir yang menganut Islam.
Situs Macan Putih dianggap cukup penting untuk mengetahui kehidupan masa peralihan dari Hindu ke Islam. Di Indonesia, situs yang menunjukkan masa transisi dari Hindu ke Islam masih langka.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Suprayogi, menjelaskan, pemerintah Banyuwangi siap menggelontorkan dana untuk penggalian berikutnya. Namun pengucuran dana maupun bentuk kebijakan yang akan diambil berkaitan dengan situs Macan Putih masih harus menunggu laporan resmi dari UGM. "Kami tunggu dulu laporan resminya," ujar Suprayogi.