Rabu, 22 Agustus 2012

Arus Menuju Puncak Stagnan




Arus kendaraan menuju kawasan wisata Puncak di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dari arah Jakarta terlihat padat di pertigaan Gadog (Megamendung) pada hari kedua setelah Lebaran, Selasa (21/8) siang. Kepadatan arus lalu lintas menuju Puncak diperkirakan akan tetap tinggi hingga akhir pekan.

BOGOR - Arus lalu lintas menuju kawasan wisata Puncak di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, sangat padat sampai sempat stagnan lebih dari satu jam pada hari kedua setelah Lebaran, Kepadatan lalu lintas menuju Puncak diperkirakan terjadi hingga akhir pekan ini.

Antrean kendaraan yang mengular terlihat di pertigaan Gadog, Megamendung, hingga pukul 13.00.
Petugas kepolisian beberapa kali memberlakukan arus kendaraan searah dari Gadog menuju Puncak, tetapi belum mampu mengurai antrean kendaraan.

Arus kendaraan menjadi semakin padat karena arus dari Gerbang Tol Jagorawi di Ciawi ditambah dengan arus kendaraan dari arah Bogor.

Batal berwisata
Widodo (45), warga Jakarta Selatan yang hendak berwisata bersama keluarga di Taman Wisata Matahari di Cisarua (Puncak), bahkan memilih pulang ke Jakarta setelah mencapai pertigaan Gadog. Ia berangkat dari rumah sekitar pukul 07.00 dan baru bisa mencapai pertigaan Gadog pukul 11.00. Sekitar pukul 12.15, ia akhirnya memutuskan masuk ke Tol Jagorawi lagi.

”Tahun ini kami sekeluarga enggak mudik ke Magelang (Jawa Tengah) dan rencananya mau ke Puncak, tetapi parah sekali kemacetannya. Mending pulang saja. Cari kolam renang di Jakarta,” tutur Widodo.

Berdasarkan data dari manajemen Gerbang Tol Jagorawi di Ciawi, pada 19 Agustus sebanyak 26.702 mobil keluar dari arah Jakarta menuju Puncak dan sebanyak 20.739 mobil masuk ke arah Jakarta. Sementara itu pada 20 Agustus sebanyak 38.288 kendaraan keluar dari tol dan 27.288 kendaraan masuk ke arah Jakarta. Pada Selasa pagi hingga siang, setidaknya 13.000 mobil keluar dari arah Jakarta.

Leni Istiari, Kepala Shif pada Gerbang Tol Ciawi, menuturkan, pihaknya sudah mengantisipasi kepadatan arus dengan menambah gerbang tol keluar dari Jakarta yang semula enam menjadi delapan. Selain itu, pihaknya menambah enam personel lebih banyak dibandingkan dengan pada akhir pekan biasa.

Pada sekitar pukul 06.30, selama sekitar 45 menit, arus kendaraan sempat diarahkan keluar dari Gerbang Tol Jagorawi di Baranangsiang (Kota Bogor) karena ada rombongan Wakil Presiden Boediono yang menuju arah Cipanas (Cianjur) melalui Gerbang Tol Ciawi.

Kondisi ini membuat antrean kendaraan semakin panjang di dalam Tol Jagorawi.

”Dari pantauan kami, volume kendaraan hari ini (Selasa) lebih padat daripada kemarin (Senin). Jumlah kendaraan yang keluar dari Gerbang Tol Ciawi kami perkirakan bisa mencapai 40.000, melebihi kemarin,” kata Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Bogor Ajun Komisaris Edwin Affandi.

Edwin memperkirakan kondisi semacam ini masih terjadi hingga tujuh hari setelah Lebaran.

Upaya untuk menerapkan arus searah menuju dan turun dari Puncak pada hari Selasa tidak terlalu dirasakan pengunjung karena volume kendaraan yang begitu besar.

Di sisi lain, ada hambatan dari titik-titik kemacetan yang tidak bisa dihindari akibat penyempitan jalan.

Perlu gebrakan
Menurut peneliti dari Laboratorium Transportasi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarno, kemacetan di kawasan Puncak tidak akan pernah terurai jika tidak ada gebrakan untuk mendorong penyediaan transportasi publik ke Puncak.

Upaya untuk membuat jalan alternatif ataupun memperlebar jalan tidak akan menyelesaikan persoalan karena volume kendaraan pribadi yang menuju Puncak akan semakin tinggi.

”Mengapa tidak mencoba mendorong bus shuttle ke Puncak. Jadi kendaraan pribadi harus diparkir di titik tertentu di bawah, bisa di Kota Bogor atau lokasi baru. Saya yakin orang- orang pasti tetap mau ke Puncak,” tutur Djoko.

Selain mengurai kemacetan dan mengurangi polusi di Puncak, kata Djoko, Pemerintah Kabupaten Bogor atau Kota Bogor bisa mendapat pemasukan dari lahan parkir ataupun dari operasionalisasi bus.

Apalagi biaya yang dikeluarkan untuk membangun jaringan transportasi publik bagi wisatawan di Puncak akan jauh lebih murah ketimbang membangun jalan baru. ”Di luar negeri jika hendak ke lokasi wisata jarang gunakan kendaraan pribadi, tetapi angkutan umum bus,” tuturnya.