Rabu, 10 Oktober 2012

Belum Ada Maaf untuk Tragedi 1965


Jakarta “Tidak mas, cukup dengan melakukan tindakan positif. Toh mereka tidak pernah mengatakan maaf kepada saya. Tidak pernah ada kata-kata maaf.”

Kalimat itu meluap dari mulut Amelia Ahmad Yani, putri ketiga Jenderal (Purn.) Ahmad Yani, Pahlawan Revolusi. Ingatannya masih segar merekam peristiwa pembunuhan ayahnya oleh pasukan Tjakrabirawa yang dikuasai PKI di rumahnya.

1 Oktober 1965, tembakan membahana seperti halilintar, derap sepatu lars tentara, dan deru mobil mengepung rumah dinas Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Ahmad Yani di Jalan Untung Suropati, Jakarta.

Amelia hanya mengintip melalui kamar belakang. Di ruang makan, ia melihat ayahnya terbungkus piama biru tengah diseret tentara. Darah tercecer di lantai, ayahnya sudah memejamkan mata.

***

Tulisan lengkap Belum Ada Maaf untuk Tragedi 1965 bisa dibaca GRATIS di edisi terbaru Majalah Detik (edisi 44, 1 Oktober 2012). Edisi ini mengupas tuntas peristiwa G30S dengan tema ‘Kontroversi Pembantai PKI’. Juga ikuti artikel lainnya yang tidak kalah menarik seperti rubrik kriminal membahas ‘Kisah Keyko Si Ratu Germo’ Internasional ‘Larangan Merokok di Swiss’, rubrik gaya hidup ‘Mari Ber-Gangnam Style’ berita komik ‘Nasib Nahas Ondos’ rubrik seni dan hiburan dan review film ‘Premium Rush’, WKWKWK ‘Polwan Masuk Parit’, serta masih banyak artikel menarik lainnya.